Manusia itu adalah mahluk sosial, tidak bisa hidup sendiri, dan tidak bisa hanya hidup diam saja. Manusia membutuhkan teman, apapun yang dapat menemani mereka untuk membuat jiwa mereka tetap hidup. Teman dapat berupa manusia lain dan berupa barang. Barang ini bermacam-macam adanya, dari jasa maupun barang jadi ataupun hiburan. Yang akan saya bahas kali ini adalah tentang game dan siswa.
Banyak saya dengar tentang adanya siswa yang sampai berani membolos demi pergi ke tempat rental game online untuk melanjutkan permainan yang sebelumnya tersimpan di server dengan username masing-masing. Dampak yang ditimbulkan oleh hal semacam ini adalah sangat negatif jika tidak diikuti dengan kesadaran dari individunya. Setiap orang yang teradiksi oleh game dapat menghabiskan waktu lebih dari 5 jam dalam sehari, bahkan mereka rela untuk begadang dan kurang istirahat demi melanjutkan misi dalam game tersebut.
Istirahat yang kurang membuat produktivitas seseorang berkurang dalam melakukan sesuatu yang penting. Ada sebuah artikel yang pernah saya baca dari sebuah media sosial, menyatakan bahwa orang yang menghabiskan banyak waktu dengan barang elektronik semacam komputer dan konsol game akan merasa lelah setiap waktu. Energi yang dibutuhkan untuk mengoperasikan sebuah alat elektronik cukup besar, dari mulai energi listrik, sampai energi di dalam tubuh. Hal ini menyebabkan seorang siswa tidak bergairah dalam belajar dan sering kali tidak dapat konsentrasi dalam menerima pelajaran di kelas.
Dan ada lagi dampak negatif dari game ini. Seorang gamer sejati mempunyai keinginan untuk memiliki konsol game sendiri. Konsol game yang baik menghabiskan dana yang cukup besar, yang padahal mereka bisa gunakan untuk membeli sesuatu untuk kelangsungan hidup mereka. Misalnya aksesoris komputer gaming membutuhkan dana 1 juta rupiah hanya untuk mouse dan keyboard. Mereka bahkan dapat menghabiskan 2 juta rupiah untuk perangkat suara seperti headset dan active speaker guna mengeluarkan suara yang lebih nyata. Tidak dipungkiri bahwa seorang gamer membutuhkan upgrade untuk komputer game mereka. Misalnya prosesor, kartu video (VGA card), RAM, dan aksesoris lain seperti controller untuk bermain game yang bisa memakan dana bahkan hingga 10 juta keatas.
Seorang gamer bahkan bisa tenggelam. Tenggelam yang berarti dia hidup dalam dunia digital, dan hampir lupa untuk melakukan interaksi dengan manusia lainnya. Kadang-kadang seorang gamer bisa mudah lupa dalam menghapalkan sesuatu yang penting karena di otaknya lebih banyak pikiran tentang permainan pada konsol gamenya. Waktu yang dihabiskan oleh para gamer menjadi tidak berarti di kehidupan nyata karena mereka lebih banyak menghabiskan uang daripada menghasilkan uang.
Menurut saya, dampak negatif tersebut dapat dihindari. Niat yang kuat dari individunya sangat berpengaruh karena tidak ada lagi yang dapat menghentikan niat seorang gamer untuk bermain game selain dirinya sendiri. Selain itu, perlu adanya kontrol dini dari orang tua agar kelak menjadi bekal untuk anaknya agar tidak terperosok dalam perkembangan hiburan digital yang tiada henti-hentinya. Niat untuk bermain game ini setidaknya harus digantikan dengan niat untuk belajar dengan tekun agar mereka bisa memproduksi sesuatu dari hobinya bermain game, semisal menciptakan konsol game yang juga dapat menambah ilmu yang berguna bagi calon-calon gamers muda.
0 comments:
Post a Comment