Showing posts with label Tulisan Teori Organisasi Umum. Show all posts
Showing posts with label Tulisan Teori Organisasi Umum. Show all posts

Wednesday, November 26, 2014

Banyak Uang Bukan Jaminan Bahagia

Definisi kata bahagia itu bisa bersifat subjektif bagi banyak orang. Di kehidupan sosial yang saya amati, arti bahagia bagi tiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang bahagia dengan apa yang sudah mereka dapatkan, ada juga yang bahagia dengan menyimpan banyak uang yang sudah mereka dapatkan. Tetapi, tidak sedikit yang bahagia dengan hidup sederhana dan apa adanya.

Contohnya, ada seorang yang memiliki banyak harta, tetapi dia tidak bahagia karena kebebasannya terganggu. Tentunya dengan memegang banyak uang, banyak yang mengincar hartanya tersebut. Tetapi ada juga yang berbahagia dengan harta yang melimpah juga. Karena dengan harta yang seseorang memiliki, seseorang tersebut bisa menggunakan hartanya di jalan kebaikan dan akan memuaskan batinnya. Mungkin orang-orang yang memiliki banyak harta dan tidak bahagia ini dikarenakan mereka tidak menggunakan hartanya dengan baik.

Apa dengan menyimpan uang saja itu cukup membuat seseorang bahagia? Jawabannya tidak. Dengan menyimpan uang tanpa membelanjakannya, hanya akan menyiksa diri seseorang saja. Seseorang hidup pasti harus memenuhi kebutuhannya. Jika sampai kikir atau kelewat pelit terhadap diri sendiri, jangan harap ada orang yang ingin dekat dengan anda. Sebab orang lain akan melihat anda sebagai orang yang untuk diri sendiri saja sudah pelit, apalagi untuk berbagi dengan orang lain toh?

Berbagi dengan orang lain itu indah, apalagi tanpa hitung-hitungan. Percayalah Yang-Di-Atas akan membalas semua kebaikan anda dari hal yang disebut berbagi. Toh rejeki juga datangnya dari Yang-Di-Atas melalui orang-orang di sekitar anda bukan? DIA yang maha mengatur, dan janganlah takut miskin dengan membagikan harta titipan-Nya tersebut. Jika sampai tidak ada orang yang ingin dekat dengan anda, bagaimana bisa rejeki-Nya dipercayakan kepada anda?

Di lain sisi, ada satu keluarga kecil dari rakyat kecil. Setiap ditanya mereka bahagia atau tidak dengan kehidupannya, mereka akan menjawab "Kami bahagia". Mereka bisa berbahagia karena orang yang dicintai, dilindungi, dan disayanginya tetap ada meskipun mereka selalu dalam kondisi pas-pasan. Mereka sudah melupakan cinta terhadap harta, karena mereka yakin rejeki sudah ada yang mengatur. Terkadang untuk makan mereka sehari-hari saja sudah susah payah mereka cari, tetapi mereka masih bisa tersenyum bahagia.

Berbeda dengan orang-orang yang kikir atau kelewat pelit. Bahkan untuk kebutuhannya sendiri saja dia masih mengemis sana-sini, padahal di kantungnya ada uang berwarna merah. Sungguh membingungkan, mereka mengejar banyak harta dengan mengorbankan kebutuhan sendiri dan harta titipan dari orang lain. Sungguh sangat kesal melihat kejadian seperti ini, karena saya menemukan beberapa kasus di lingkungan sekitar saya sendiri. Bahkan tidak ada hasrat untuk patungan membeli sesuatu yang ia minta.

Tetapi ini hanyalah sebuah tulisan opini. Tulisan ini bukanlah untuk anda taati. Saya, sebagai penulis hanya ingin berbagi kisah pengalaman di dalam hidup yang terjadi di sekitar saya. Semoga dengan tulisan ini dapat membantu pembaca untuk berubah ke tahap hidup yang lebih baik lagi.

Monday, November 24, 2014

Menjelaskan Lebih Detil Spesifikasi Smartphone

Di Indonesia pada saat ini, telah marak smartphone yang dibanderol dengan harga yang diiming-imingi murah. Produsen smartphone juga menyematkan otak dengan kecepatan yang tinggi serta kamera yang digadang-gadang mumpuni. Padahal ada beberapa macam faktor yang mempengaruhi harga yang disebut murah tersebut.

Pertama, dari otak atau prosesor. Di pasar dunia, ada berbagai macam jenis prosesor smartphone dengan berbagai tipe dari mulai yang irit daya, hingga peforma yang digdaya. Seperti salah satu operator CDMA di Indonesia yang memasarkan ponselnya dan mengunggulkan prosesor 4-inti yang dimilikinya. Sebenarnya prosesor 4-inti yang dibandrol dengan harga yang terjangkau ini memiliki tipe yang irit tenaga. Dalam arti lain, prosesor yang disematkan dalam smartphone tersebut adalah prosesor dengan kelas rendah yang diproduksi oleh produsen tersebut. Dan di dalam prosesor smartphone sendiri terdapat sebuah arsitektur prosesor yang menentukan peforma dari sebuah smartphone. Sehingga ini adalah salah satu titik penting yang harus dipelajari dalam pembelian smartphone murah.

Kedua, faktor memori. Memori sendiri ada 2, yaitu RAM dan ROM. RAM sendiri memiliki beberapa jenis kecepatan dan kapasitas. Dengan kecapatan RAM yang tinggi, maka kendala transisi patah-patah bisa sulit ditemukan dalam smartphone dengan RAM berperforma tinggi. ROM sendiri di dalam smartphone dibagi-bagi dalam sebuah sistemnya sendiri. Ada yang untuk sistem, aplikasi, dan penyimpanan data pribadi, sehingga pembaca jangan kaget jika menemui ponsel dengan spesifikasi ROM 8 GB tetapi yang bisa dipakai untuk penyimpanan data hanya 4-6 GB. Hal ini terjadi karena pembagian (partisi) di dalam manajemen sistem operasi di dalam smartphone tersebut.

Ketiga, faktor layar. Layar sendiri memiliki berbagai jenis spesifikasi, resolusi dan merek produsen. Tiap produsen memiliki harga dan keunggulan yang berbeda pula. Untuk keunggulan antar layar mungkin sulit juga bagi pengguna untuk membedakannya. Mengenal layar sendiri butuh waktu dan proses, Seperti resolusi layar, dan jenis cairan atau pencahayaan yang digunakan. Resolusi yang lebih tinggi dengan diagonal layar yang lebih kecil membutuhkan proses produksi yang lebih sulit daripada layar dengan resolusi rendah dengan diagonal layar yang besar. Proses yang lebih sulit biasanya menunjukkan harga yang harus dibayar oleh seorang konsumen. Meskipun kerapatan resolusi layar sedikit sulit dibedakan kasat mata.

Keempat, faktor multimedia. Produk yang telah dikeluarkan banyak sekali yang menggembar-gemborkan keunggulan di sektor multimedia. Contohnya kamera. Banyak sekali yang menawarkan resolusi kamera yang tinggi. Calon pembeli biasanya selalu bertanya berapa resolusi kamera yang tersedia, bukan bagaimana hasil dari sebuah lensa kamera di smartphone tersebut. Ironis saat pembeli meminang sebuah smartphone dengan resolusi kamera yang tinggi tetapi tidak mendapatkan hasil yang baik dan terkesan seperti kamera ponsel "jadul" dengan "semut" yang terlihat banyak dan warna yang tidak natural serta hasil yang terkesan gelap pada pencahayaan minim.

Lalu di sektor musik, mungkin sudah sulit membedakan kualitas suara di sebuah smartphone, karena bagi pendengaran awam, kualitasnya 11-12 dengan produk yang berharga tinggi. Sektor ini bisa saja dilewatkan, tetapi ada satu hal yang mengganjal. Hal ini mungkin kecil, tetapi colokan untuk earphone juga memiliki 2 jenis (yang menggunakan mikrofon) dengan diameter 3,5 mm. Kedua jenis earphone ini berbeda pada kabel ground dan mikrofon. Jadi saat sebuah smartphone dengan platform colokan earphone lama dicolokan earphone dengan platform baru, hasil suaranya seperti terpendam dan kita harus menekan tombol jawab telepon yang ada di earphone tersebut untuk mengeluarkan suaranya (coba saja amati ini pembaca).

Jadi, pintar-pintarlah dalam memilih teknologi dan spesifikasi smartphone. Jangan hanya tergiur dengan harga miring ataupun merek produsen yang sudah ternama. Jangan utamakan gengsi, karena hidup itu butuh kenyamanan. Setidaknya ketahuilah apa yang anda butuhkan dan akan anda beli.

Lewat Media Sosial, Seseorang Ditangkap

Media sosial sudah tidak asing lagi di teling berbagai kalangan. Tua-muda, janda-duda, om-tante, pakde-bude, sampai ke bule. Mungkin secara tidak sadar, kita telah menggunakan sosial media secara berlebihan. Bahkan mungkin sulit bagi banyak orang untuk lepas dari sosial media yang dianggap membuat hidup jadi lebih mudah. Tapi beberapa waktu yang lalu, saya melihat berita bahwa ada seseorang yang ditangkap karena media sosial. Lho kok?

Media sosial masa kini telah menjadi ajang untuk menyuarakan suara. Sebenarnya suara yang disuarakan di media sosial ini tidaklah sebebas yang orang-orang pikirkan. Anggap saja timeline itu mading. Setiap orang yang lewat pasti bisa melihat dan membaca apa isi dari posting-an seseorang. Nah kalau ada orang yang tersinggung dengan tulisan kita bukannya bahaya?

Internet sendiri ada hukumnya dan ada peraturannya. Polisi internet juga ada. Penjahat internet juga ada. Maka dari itu seharusnya kita (pengguna media sosial) memahami dulu batasan-batasan yang harus dipatuhi. Kalau kita ingin membuat akun media sosial juga ada syarat dan ketentuan yang harus kita setujui sebelum membuat media sosial, namun banyak orang yang melewati ini (termasuk penulis juga hehehe).

Nah beberapa waktu lalu ada kasus tentang seseorang yang menghina seseorang lalu ditangkap karena mencemarkan nama baik sebuah lembaga. Mungkin hal seperti ini harusnya dijadikan pelajaran agar kesalahan seperti ini tidak dilakukan oleh kita.

Oleh karena itu, kesantunan dimana-mana harus dijaga, agar tidak ada orang yang tersinggung dan menyeret kita ke dalam masalah. Betul tidak pembaca?

Tips Saat Hujan dan Petir Datang

Bersyukur akhirnya siklus musim di Indonesia bisa kembali seperti biasa, tidak seperti tahun lalu. Akhirnya hujan turun di bulan November (seperti lagu zaman dulu, November Rain :p). Di musim hujan ini, kita harus tetap beraktivitas seperti biasanya. Tetapi hujan juga tak jarang membuat beberapa orang takut dan malas untuk keluar. Jika sedang berada di luar, paling tidak banyak orang yang berkumpul di satu tempat.

Nah jika kita terjebak hujan dan terpaksa berteduh, saya punya tipsnya. Jika petir besar terasa ada di dekat kita, cobalah matikan jaringan ponsel anda. Jaringan ponsel terhubung dengan BTS terdekat melalu sinyal radio yang merambat di udara. Saat hujan dan petir datang, sinyal radio yang aktif bisa menjadi jalan menyambarkan petir. Alih-alih malah menyambar pengguna ponsel, petir itu kan berbahaya. Apalagi jika orang banyak berkumpul di satu tempat, dan masing-masing membawa minimal satu ponsel dengan jaringan yang aktif. Sinyal radio semakin banyak dan kuat di satu titik, bisa-bisa petir menyambar ke masing-masing orang karena kumpulan sinyal radio itu bukan?


Tips selanjutnya, jangan lupa membawa payung atau jas hujan ya pembaca :p

Mahasiswa Kok Gitu?

Waktu menjadi mahasiswa adalah waktu transisi dari kebiasaan manja menjadi pribadi yang mandiri dan dewasa. Proses pembentukan diri ini memang membutuhkan waktu yang lama. Tapi kejadian-kejadian yang saya dapat amati, saya sering sekali melihat kelakuan yang bukan mahasiswa. Memangnya menjadi mahasiswa berarti bisa seenaknya ya?

Saya juga mahasiswa, saya juga salah satu dari mereka. Tapi untuk menyiram kamar mandi saja susah, bagaimana mau menghadapi dunia ini? Lucu sebenarnya. Kalau anak sekolah dasar, sah-sah aja. Ini mahasiswa, sudah duduk menjadi pelajar selama kurang lebih 9 tahun, kenapa untuk mengurus fasilitas umum saja tidak bisa?


Kamar mandi umum, disediakan untuk seluruh orang yang ada di suatu tempat. Jangan samakan kamar mandi yang ada di tempat perbelajaan. Karena di tempat umum, tidak semua yang dating berkunjung itu memiliki pendidikan kepribadian. Seorang mahasiswa harusnya bisa menjaga kebersihan, bukan malah merusak fasilitas umum. Kalau ditegur, jawabannya “maklum pak, bu, saya mahasiswa”. Ini apa-apaan membawa nama mahasiswa seolah-olah semuanya buruk? Harusnya dikenakan pasal hukum kali yaaa hehehe.

Menghemat atau Alternatif

Manusia diciptakan berdasarkan takdirnya masing-masing. Dan apa yang manusia pikirkan itu tanpa sadar akan mempengaruhi kehidupan manusia itu tadi. Misalnya jika manusia itu berkecil hati, maka manusia tidak akan berani untuk mencoba. Tetapi jika merasa optimis, tentunya seseorang akan melakukan berbagai macam cara untuk mencapai tujuannya. Nah pikiran pesimis ini yang membuat seseorang menjadi malas. Kemalasan ini cukup berbahaya lho pembaca.

Kebiasan malas ini menjadikan seseorang konsumtif, tidak produktif. Artinya, kreativitas yang terpendam sulit disalurkan karena perasaan malas telah merajai hati seseorang. Kegiatan konsumtif ini yang membuat kelangkaan di beberapa sektor kehidupan. Menghemat saja tidak, malah menghabiskan saja.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kelangkaan sumber daya karena kerusakan yang ditimbulkan oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab diperlukan sebuah gerakan. Sebenarnya ada 2 pilihan, menghemat atau membuat energi alternatif.


Seperti yang diungkapkan di atas, jika seseorang pesimis, maka akan menambah krisis sumber daya yang telah dialami masyarakat dunia. Maka hal tentang energi alternatif ini sebenarnya harus dibicarakan lebih lanjut oleh orang yang berwawasan. Kerja yang efektif sangat dibutuhkan untuk menemukan sebuah energi alternatif yang praktis dan efisien. Masa jutaan komponen di muka bumi, kita cuma bergantung sama sebuah energi?

Pengalaman Berkendara dan Mengemudi

Banyak perantau yang pergi ke ibu kota untuk mencari ilmu dan mencari rezeki. Bahkan tidak sedikit orang yang nekat mengadu nasib di ibu kota meskipun kehidupan seseorang di kampong halamannya sudah lebih dari cukup. Untuk dapat mencapai ibu kota Jakarta, banyak penjuru dari berbagai macam kota dan provinsi menempuh jarak yang cukup jauh. Penulis sendiri adalah salah seorang pemuda yang besar bukan di kota besar Jakarta, dan berniat untuk mencari ilmu di kota Depok, dekat dengan ibu kota Jakarta.

Pengalaman yang bisa didapatkan dalam menumpah jarak ~264 Km dengan menggunakan jalur tanpa tol cukup menyenangkan. Kita bisa melihat pemandangan, keadaan di kota lain, bahkan bisa bertemu dengan orang-orang baru yang baik. Kita juga bisa mengenal kebiasaan masyarakat dalam sebuah kota yang baru kita kunjungi, entah itu kebiasaan berlalu-lintas, ataupun kebiasaan mendatangi sebuah konser.

Kita juga bisa berhenti di satu titik dalam sebuah kota. Kita juga bisa mengenal titik-titik rawan tilangan, dan kebiasaan polisi dalam melakukan penilangan kendaraan bermotor. Kita bisa bebas merdeka untuk pergi kemanapun yang kita mau, tidak terpaku jadwal tentunya. Hal inilah yang penulis cintai dari menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan dengan kendaraan umum, karena Indonesia juga telah merdeka.

Saat mengemudipun sama, bedanya hanya menggunakan jalur bebas hambatan atau jalan tol. Di jalan tol ini, kita juga bisa istirahat di tempat istirahat yang disediakan di beberapa titik jalur tol. Kita bisa mengenal mana tempat istirahat yang bersih dan menarik, dan tentunya menambah wawasan juga. Lumayan toh kalau ada teman yang bertanya-tanya? Kita jadi bisa dianggap berwawasan kan hehehe.

Sungguh sebuah pengalaman yang tidak bisa didapatkan dengan menggunakan transportasi umum. Namun ada baiknya jika pembaca menyiapkan fisik dan mental yang kuat jika ingin melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan pribadi. Yang terpenting adalah keyakinan untuk bisa menaklukan semua medan.

Media Massa Pembunuh Karakter

Seluruh kejadian yang terpampang di media massa dengan mudah bisa didapatkan masyarakat luas. Seseorang yang turut serta dalam satu berita acara juga pasti tidak mengharapkan bila namanya terpampang di media massa dengan nama yang kurang baik. Beberapa  berita acara malah seringkali dikurangi dan dilebihi demi meraih reputasi yang baik. Apakah dengan reputasi maka semua jadi baik?

Pembaca mungkin sudah sering mendengar tentang muka dua, dimana seseorang akan berakting beda di tempat yang berbeda pula. Kejadian yang menyangkut orang penting juga sering direvisi agar saat ditampilkan semuanya jadi baik demi meraih keuntungan yang besar dari reputasi perusahaan peliput acara. Berita-berita yang beredar di media massa juga tidak bisa ditutupi sering kali menutupi fakta atau mempengaruhi pemikiran orang lain.

Di Indonesia sendiri banyak sekali perusahaan penyiar acara televisi. Dari sebuah berita saja dapat menghasilkan banyak spekulasi dan kesimpulan yang saling menusuk. Seringkali masyarakat awam juga bingung yang mana yang benar dan baik untuk dipercaya. Penulis sendiri adalah salah seorang yang kurang suka melihat berita di media massa yang berkesan subjektif. Padahal saat penulis belajar pelajaran Bahasa Indonesia pada saat penulis berada di bangku sekolah menengah atas, ada beberapa syarat untuk mengeluarkan suatu berita atau opini, apalagi menyangkut media massa.

Untuk orang-orang yang benar-benar awam tentang satu kejadian, bisa saja mengikuti sesuatu yang salah yang telah ditampilkan di media massa. Fungsi media massa sendiri salah satunya adalah media edukasi, dimana jika ada berita yang sifatnya subjektif, maka ini berarti telah mencoreng nama edukasi di dalam media massa itu sendiri. Lembaga-lembaga yang berperan dalam pengawasan siaranpun seringkali kecolongan, atau bahkan kurang peduli terhadap program di dalam sebuah media massa.


Menurut penulis, seharusnya ada perubahan dalam pengawasan media massa ke arah yang lebih baik. Jika yang melihat berita subjektif itu anak di bawah umur, lalu mereka melakukan kriminal, siapa yang harus disalahkan?

Renovasi Ketertiban

Kali ini yang sedang ramai dibicarakan lagi adalah uji coba lalu lintas tanpa sepeda motor di beberapa titik. Bagi beberapa orang penting, pengendara sepeda motor seringkali menimbulkan kemacetan. Uji coba ini memang belum tentu akan ditetapkan sebagai aturan tetap, karena masih dalam tahap pengujian. Tetapi jika ini akan menjadi aturan tetap, kemana pengendara sepeda motor harus pergi jika jalan yang ditujunya tidak boleh dilalui?

Penulis sendiri adalah seorang pengendara motor sejak tahun 2006. Sudah 8 tahun sampai dengan tahun 2014 ini. Penulis sendiri sudah mencicipi lalu lintas di beberapa kota. Dan penulis sendiri kurang setuju jika sebuah kemacetan itu asalnya dari sepeda motor.

Dari pengamatan yang penulis dapatkan di jalan raya, ternyata tidak hanya pengendara sepeda motor yang menimbulkan kemacetan, angkutan umum, pejalan kaki, dan kendaraan selain roda duapun turut serta dalam menimbulkan kemacetan. Contohnya adalah pengemudi kendaraan pribadi yang seringkali berhenti di pinggir jalan yang menghalangi pengguna jalan lain. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa karena murni kesalahan pengemudi, ataukah memang sulit menemukan titik berhenti yang baik karena ketidak-tersediaannya fasilitas umum yang memadai?

Manusia pandai saling menyalahkan, tetapi sangat lemah untuk mengakui kesalahan sendiri. Kembali lagi ke sistem yang komponennya selalu bekerja sama, sebenarnya seluruh masyarakatpun turut serta dalam kemacetan jalan raya. Misalnya, jika saja ada ruang khusus menyebrang bagi pejalan kaki, jalan khusus untuk kendaraan bermuatan tinggi, dan ruang henti yang tertib di lampu merah, mungkin saja kemacetan bisa dihindari.

Kembali lagi kepada poin selanjutnya, yaitu kurangnya kemampuan manusia untuk mengaku salah. Inti dari kemacetan sendiri adalah sebenarnya dari diri seseorang itu sendiri. Jika seseorang ingin berjalan pelan, maka seharusnya orang itu berada di lajur kiri, namun acap kali penulis melihat banyak yang menggunakan lajur tengah saat berjalan pelan. Berbagai macam alasan untuk berada di lajur tengah dengan tenang, salah satunya karena menghindari jalan rusak. Jadi kesalahan siapa semua ini?


Tentunya kembali lagi pada pribadi masing-masing. Jika ingin menjaga ketertiban, maka bangkitlah dari diri sendiri dulu sebelum terbesit keinginan untuk menjadikan kehidupan dunia lebih baik.

Mengejar Kuantitas, Merubah Kualitas

Seseorang, sebuah grup, dan sebuah perusahaan dalam mengais rejeki selalu melakukan banyak hal. Biasanya produksi pertama hadir dengan kualitas yang terbaik. Mengapa? Karena produk dari seseorang, sebuah grup, atau sebuah perusahaan butuh pengakuan dari masyarakat luas dulu.

Seiring dengan dikenalnya sebuah nama, maka kuota produk ditambah. Dengan penambahan kuota ini, produsen mengejar kuantitas, dan tidak jarang melupakan tentang kontrol kualitas dari produknya sendiri, sehingga seringkali saya dengar istilah ‘produk gagal’. Produsenpun tidak mau kalah dengan menggembar-gemborkan bahwa pihaknya telah melakukan uji kualitas dengan ketat agar tidak dituntut oleh konsumen.

Saat sebuah produk sudah tidak dipercaya lagi oleh konsumen, maka akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan konsumen lagi. Jika diteliti, seiring dengan perkembangan sebuah produsen, maka dibutuhkan juga penambahan tenaga kerja. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa sebuah produsen lebih mengejar kuantitas daripada kualitas.


Namun alangkah baiknya jika sebuah produsen menelurkan sebuah produk dengan kualitas yang konsisten, karena lebih sulit untuk mempertahankan daripada untuk mencapainya. Karena seringkali cap jelek sulit untuk dihilangkan, bahkan untuk seseorang yang mau berubah sekalipun.

Menekuni Sebuah Hobi, Mahal?

Manusia hidup dengan hasrat. Keinginan manusia itu banyak, sehingga menimbulkan sesuatu yang disebut dengan hobi. Banyak yang saya lihat jika seseorang fanatik terhadap hobinya, seseorang tidak akan berpikir panjang untuk memenuhi keinginan hobinya. Apakah benar hobi itu mahal?

Sebagai contoh, saya hidup di antara pemain game-online. Saya seringkali mendengar beberapa merek dan tipe aksesoris untuk game-online yang harganya tidak masuk akal. Seperti contohnya mouse dan keyboard. Saya sendiri heran, kenapa ada mouse atau keyboard yang dijual jutaan. Padahal dengan harga 100 ribuan juga seseorang bisa mendapatkan sebuah mouse atau keyboard dengan fungsi yang sama dengan kenyamanan yang tidak jauh beda.

Contoh selanjutnya, saya hidup di antara penggemar mobil. Jelas saja hobi mobil itu mahal, membeli mobilnya saja sudah susah payah bagi banyak orang. Ada mobil tua yang dibilang antik dan dijual dengan harga melebihi sebuah mobil sport keluaran baru. Ada juga seperangkat sistem suara yang dijual sama dengan sebuah mobil baru. Bicara modifikasi mobil sudah tidak ada habisnya untuk dana. Padahal jika kita cerdas, kita bisa memilih sebuah kualitas dengan reduksi harga yang cukup jauh kan?

Contoh berikutnya, saya hidup dalam dunia sistem informasi. Memang inilah salah satu godaan berat bagi saya. Teknologi sendiri terus berkembang, dan selalu ada produk jenis baru dalam beberapa waktu. Dengan fungsi yang berbeda, saya juga seringkali ingin membelinya. Seperti wireless display adapter yang bisa digunakan dengan smartphone. Tetapi perangkat ini juga dikembangkan oleh berbagai produsen dengan berbagai harga. Saya sendiri selalu melihat spesifikasi produk sebelum membeli, tidak terbutakan oleh sebuah nama.


Itulah yang membuat hobi mahal, keinginan. Padahal jika kita teliti pada spesifikasi produk, kita bisa mendapatkan sebuah produk dengan fungsi dan kenyamanan yang sama dengan harga sejatuh-jatuhnya. Jadi, bijaklah dalam menyisihkan uang untuk hobi anda.

Kurang Seimbangnya Pertumbuhan Teknologi Gadget

Kita sekarang hidup di jaman modern di mana kita bisa hidup di rumah saja dan bisa melakukan lebih banyak hal dibanding dulu. Itu semua bisa dilakukan karena Tuhan membuat teknologi itu tumbuh melalui kecerdasan otak manusia yang diberikan-Nya. Sebagai manusia, kita diberi amanat oleh Tuhan Y.M.E. untuk hidup dan berkembang dengan akal. Maka tidaklah mustahil jika perkembangan teknologi menjadi cepat.

Pada tahun 2000, dimana membeli ponsel mahal itu hanya sekedar berlayar hitam putih, dan membeli kartu SIM dengan harga 10 kali lipat dibanding sekarang. Dan dulu di tahun 2006, saya masih ingat menggunakan paket internet di ponsel dengan harga 100 per-menit dengan kecepatan maksimal 384 kbps di teknologi 3G. Sekarang sudah memasuki era 4G LTE, tidak terasa mobile broadband dapat mencapai kecepatan 150 mbps pada jaringan LTE Cat. 4 (kalau tidak salah).

Untuk mewujudkan evolusi ini dibutuhkan waktu yang cukup panjang, tetapi cukup berarti. Perkembangan ini mungkin sedikit mengenyampingkan sumber daya penghidup dari teknologi tersebut, batere. Pada jaman dulu di tahun 2000-an, kapasitas batere 780 mAH masih mampu menghidupi komunikasi seseorang untuk 2-3 hari dengan intensitas normal. Tetapi sekarang, dengan hadirnya internet mobile, pada jaringan 3,75G saja batere 2.100 mAH tidak akan kuat hingga seharian penuh jika dipakai lumayan sering.

Layar gadget tidak luput dari perkembangan. Resolusi layar yang tinggi dengan kerapatan yang tinggi pula jadi sesuatu yang menarik bagi sebagian kalangan. Saya ingat ponsel pertama saya mampu saya buat kalung dengan aksesoris tambahan karena ringan dan kecil. Tetapi sekarang hampir mustahil untuk membuat kalung dari smartphone. Mungkin akan terlihat menarik bila anda seorang artis dan membuat kalung dari smartphone dengan layar besar. Untuk memasukkan smartphone ke kantong saja kadang tidak nyaman, berbeda dengan jaman dulu.

Tren layar sentuh sendiri tumbuh. Padahal hal ini juga sebenarnya lebih riskan daripada pada jaman dulu. Jaman dulu, saya hampir tidak pernah takut untuk melempar sebuah ponsel ke kasur. Tetapi sekarang, layar sentuh rentan untuk pecah, sekalipun anda memakai antigores, karena antigores melindungi layar dari goresan, bukan kecelakaan seperti terjatuhnya ponsel.


Belum lagi untuk kapasitas memori dan jeroan sebuah gadget yang canggih seringkali tidak digunakan optimal bagi banyak pengguna. Pengguna gadget lebih banyak meninggikan gengsi untuk membeli gadget yang memiliki nama dan harga yang mahal. Padahal dalam sebuah gadget tidak lepas dari 3 buah komponen, yaitu software, hardware, dan brainware. Jika brainware itu sendiri lemah, maka sistem tidak akan berjalan baik. Suatu sistem itu harus memperhatikan keseimbangan antar-komponen. Maka alangkah bijaksananya seseorang jika membeli sesuatu yang cukup, bukan berlebihan, termasuk dalam pembelian gadget.

Opini Tentang Kenaikan BBM

Saat ini sedang marak demo kenaikan BBM, khususnya di pulau Jawa. Kenaikan yang mendadak ini tidak beralasan bagi sebagian orang, tetapi bagi sebagian orang lainnya, kenaikan BBM yang mendadak ini bukanlah tanpa alasan. Tapi karena jika kenaikan BBM terus digembor-gemborkan, maka persiapan demo akan terjadi dimana-mana dimana hal ini berlangsung ricuh dan justru malah tidak beralasan.

Demo sendiri sebenarnya mengganggu banyak orang. Kalau iya aspirasi kita sebagai rakyat didengar oleh yang berwenang. Kalau tidak? Manusia yang berdemo di jalanan, menghalangi jalan, mengganggu ketertiban umum, apakah itu jalan yang baik dengan menyia-nyiakan tenaga?

Negara ini telah melakukan beberapa kali kenaikan harga BBM bersubsidi. Lalu kemana demo-demo yang dulu dilakukan? Apakah demo yang kita lakukan mengubah nilai jual BBM setelah naik? Saya bertanya-tanya. Saya sendiri terganggu jika ada demo yang ricuh. Saya harus jalan memutar karena demo, belum lagi orang yang berdemo tidak rapih dan menimbulkan sampah demo di jalanan. Jikalau kalian ingin berdemo, menjaga ketertiban dan kebersihan umum juga harus kan?

Pernahkah kita yang hidup di pulau pusat Indonesia ini merasakan seperti mereka di pulau lain yang membeli sesuatu serba mahal? Jauh lebih mahal dari harga yang ada di pulau Jawa. Tapi apa mereka yang merasakan hal yang lebih mahal tersebut protes? Kita hanya belum terbiasa, seperti dulu saat BBM naik sebelum ini. Setelah itu, kita terbiasa kan? Mengapa harus menyuarakan demo yang tidak terdengar?

Negara ini telah memanjakan rakyatnya dengan berbagai fasilitas yang harus tersedia secara murah. Di beberapa Negara maju, sebenarnya harga itu yang penting masuk akal. Memang benar adanya jika minyak mentah di dunia sudah dalam tahap yang krisis. Maka bagi saya kenaikan BBM subsidi ini adalah salah satu langkah yang baik untuk menghadapi krisis minyak dunia dan mulai beralih ke energi alternatif. Salah satu langkah untuk memotivasi masyarakat adalah dengan menjauhkan kebiasaan konsumsi murah. Jika pemerintah kerap memanjakan masyarakatnya, maka masyarakat akan terbiasa hidup dalam kestatisan. Itu berarti inovasi dan renovasi kehidupan hanya akan dilakukan oleh sedikit orang.

Satu opini penting saya untuk generasi saya yang masih muda, belajarlah saja dulu yang baik, supaya nanti kita bisa bekerja sama membangun sebuah perusahaan energi alternatif. Jadilah orang yang berguna bagi orang banyak. Jika demo rusuh itu berguna bagi masyarakat banyak, maka berdemolah. Asal jangan merugikan orang lain saja.

Sunday, November 9, 2014

Belajar Dari Film Animasi "One Piece"

Pembaca mungkin pernah mendengar, atau malah mengikuti cerita One Piece? Cerita ini (komik ataupun film), mengisahkan kehidupan bajak laut pada suatu masa. Luffy, Monkey D. Luffy, adalah cucu dari seorang wakil admiral angkatan laut dan anak dari seorang revolusioner bajak laut. Kehidupannya sederhana, dari kecil Luffy sudah dididik mandiri oleh kakeknya. Sampai suatu saat dia bertemu dengan temannya, Ace, anak dari raja bajak laut di era sebelumnya. Setelah bertemu Ace, Luffy juga bertemu dengan Sabo, seorang anak bangsawan yang kesepian dan sedang mencari teman.

Akhirnya tiba dimana ketiganya terpencar. Namun yang akan saya ceritakan kali ini adalah kisah tentang Luffy yang ingin menjadi raja bajak laut. Semangatnya begitu kuat untuk mencapai impiannya. Sampai-sampai dia selalu menyemangati orang lain yang sedang patah semangat. Dia sangat marah ketika mendengar seseorang putus asa dengan semangatnya. Lalu orang-orang di sekitarnya mampu membangkitkan semangat yang telah putus karena ocehan lugu dari sang kapten topi jerami, Luffy. Dia selalu meneriakkan impiannya kepada orang yang baru ia temui, yaitu untuk menjadi raja bajak laut. Dan orang-orang yang ditemuinya selalu merasa nyaman meskipun mereka pada awalnya sangat takut dan membenci Luffy, karena dia adalah seorang bajak laut.

Luffy selalu memikirkan tentang teman. Kesetiakawanannya begitu kuat sehingga dia selalu menunggu dan membantu teman-teman, bahkan orang yang sedang dalam keterpurukan sekalipun orang lain itu adalah bajak laut juga. Dia selalu merangkul teman-temannya, meskipun dia selalu menyatakan rencana yang gegabah dan tidak matang, akhirnya dia bersama teman-teman bajak lautnya mampu menghadapi masalah demi masalah.

Namun yang bermasalah justru adalah angkatan laut. Luffy tidak pernah berniat untuk berurusan dengan angkatan laut. Tetapi dengan kru-kru bajak laut yang Luffy kumpulkan, mereka juga punya masa lalu yang kelam. Saat angkatan laut menangkap kru Luffy, sebenarnya Luffy hanya ingin mengembalikan temannya. Tetapi jelaslah apa yang dilakukan Luffy dianggap sebagai tentangan terhadap angkatan laut. Tetapi Luffy tidak peduli dengan angkatan laut. Yang ia pedulikan hanya teman-temannya dan juga orang baik di sekitarnya.

Angkatan laut selalu mengatakan tentang keadilan dan kedamaian dunia. Di saat Luffy mengalahkan salah satu kapten bajak laut yang menjadi rekanan angkatan laut (shicibukai), Crocodile, angkatan laut justru mengaku bahwa angkatan laut lah yang telah mengalahkannya. Mereka selalu merasa benar, dan selalu memutar balikan fakta untuk tetap dipandang baik oleh masyarakat dunia.

Ini lah salah satu gambaran dari dunia nyata. Yaitu yang selalu merasa benar tidaklah pasti selalu berbuat benar. Seringkali orang yang dianggap salah ternyata menjadi dalang di dalam datangnya kebaikan. Orang baik jelas tidak pernah ingin diumbar menjadi orang baik. Jelaslah bahwa yang nyata adalah orang baik itu karena pengakuan orang lain, bukan karena pengakuan diri sendiri. Dan kesetiakawanan dan semangatnya Luffy patut dicontoh, tetapi tidak tindakannya yang seringkali ceroboh. :)

Monday, October 6, 2014

Demokrasi yang Tenggelam

Indonesia adalah sebuah negara yang demokrasi. Artinya, kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Yang sekarang ada, adalah demokrasi di Indonesia sudah hampir mati. Artinya, setiap penyelenggaraan kenegaraan dijalankan dan diatur oleh pemerintah itu sendiri. Namun, bukankah pemerintah yang ada sekarang juga adalah rakyat Indonesia juga?

Pemilihan demi pemilihan dalam pesta demokrasi sering sekali berujung rusuh. Inilah yang membuat Indonesia terombang-ambing. Mental rakyatnya belum kuat, artinya masih gampang diombang-ambingkan pengertian dalam hatinya. Rakyat Indonesia mudah sekali untuk emosi, itulah sebabnya banyak pesta demokrasi berujung ricuh.

Bukankah pemimpin yang ada sekarang juga adalah rakyat Indonesia? Lalu jika demokrasi mati, siapa yang akan menjalankan negara? Ya, namanya juga hidup bersama. Manusia itu punya berbagai macam sifat yang berbeda. Lalu kita jalan bersama secara berdampingan, tidak mungkin tidak ada perselisihan. Perbedaan pendapat itu wajar, tetapi yang tidak wajar adalah jika pendapat yang diambil itu adalah pendapat yang buruk.

Pasca pemilihan presiden, kelangsungan hidup bernegara berlangsung rusuh. Bukan tidak mungkin ada dalang dibalik kericuhan ini. Namanya juga manusia, ada saja yang berambisius ingin mendapatkan tahta. Padahal harus diingat bahwa jabatan pemimpin itu kelak akan BERTANGGUNG JAWAB di akhirat. Apapun yang rakyat lakukan, jika itu adalah perintah pemimpin, semestinya harus dilakukan. Dan jika perintah pemimpin tersebut menyimpang, maka yang menanggung dosa adalah pemimpin tersebut. Jika rakyat salah tetapi pemimpin tidak pernah memerintah demikian, maka pemimpin bebas dari kesalahan pemimpinnya.

Yang perlu ditanggapi sekarang adalah kematian demokasi di Indonesia yang berujung ricuh. Semua yang dilakukan pemimpin adalah dengan perhitungan. Mungkin yang ada sekarang, kematian demokrasi itu adalah karena mental rakyat Indonesia yang kurang kuat. Karena jika demokrasi itu tetap dilaksanakan, maka kerusuhan juga tetap saja terjadi. Sekian.