Di Indonesia pada saat ini, telah marak smartphone yang dibanderol dengan harga yang diiming-imingi murah. Produsen smartphone juga menyematkan otak dengan kecepatan yang tinggi serta kamera yang digadang-gadang mumpuni. Padahal ada beberapa macam faktor yang mempengaruhi harga yang disebut murah tersebut.
Pertama, dari otak atau prosesor. Di pasar dunia, ada berbagai macam jenis prosesor smartphone dengan berbagai tipe dari mulai yang irit daya, hingga peforma yang digdaya. Seperti salah satu operator CDMA di Indonesia yang memasarkan ponselnya dan mengunggulkan prosesor 4-inti yang dimilikinya. Sebenarnya prosesor 4-inti yang dibandrol dengan harga yang terjangkau ini memiliki tipe yang irit tenaga. Dalam arti lain, prosesor yang disematkan dalam smartphone tersebut adalah prosesor dengan kelas rendah yang diproduksi oleh produsen tersebut. Dan di dalam prosesor smartphone sendiri terdapat sebuah arsitektur prosesor yang menentukan peforma dari sebuah smartphone. Sehingga ini adalah salah satu titik penting yang harus dipelajari dalam pembelian smartphone murah.
Kedua, faktor memori. Memori sendiri ada 2, yaitu RAM dan ROM. RAM sendiri memiliki beberapa jenis kecepatan dan kapasitas. Dengan kecapatan RAM yang tinggi, maka kendala transisi patah-patah bisa sulit ditemukan dalam smartphone dengan RAM berperforma tinggi. ROM sendiri di dalam smartphone dibagi-bagi dalam sebuah sistemnya sendiri. Ada yang untuk sistem, aplikasi, dan penyimpanan data pribadi, sehingga pembaca jangan kaget jika menemui ponsel dengan spesifikasi ROM 8 GB tetapi yang bisa dipakai untuk penyimpanan data hanya 4-6 GB. Hal ini terjadi karena pembagian (partisi) di dalam manajemen sistem operasi di dalam smartphone tersebut.
Ketiga, faktor layar. Layar sendiri memiliki berbagai jenis spesifikasi, resolusi dan merek produsen. Tiap produsen memiliki harga dan keunggulan yang berbeda pula. Untuk keunggulan antar layar mungkin sulit juga bagi pengguna untuk membedakannya. Mengenal layar sendiri butuh waktu dan proses, Seperti resolusi layar, dan jenis cairan atau pencahayaan yang digunakan. Resolusi yang lebih tinggi dengan diagonal layar yang lebih kecil membutuhkan proses produksi yang lebih sulit daripada layar dengan resolusi rendah dengan diagonal layar yang besar. Proses yang lebih sulit biasanya menunjukkan harga yang harus dibayar oleh seorang konsumen. Meskipun kerapatan resolusi layar sedikit sulit dibedakan kasat mata.
Keempat, faktor multimedia. Produk yang telah dikeluarkan banyak sekali yang menggembar-gemborkan keunggulan di sektor multimedia. Contohnya kamera. Banyak sekali yang menawarkan resolusi kamera yang tinggi. Calon pembeli biasanya selalu bertanya berapa resolusi kamera yang tersedia, bukan bagaimana hasil dari sebuah lensa kamera di smartphone tersebut. Ironis saat pembeli meminang sebuah smartphone dengan resolusi kamera yang tinggi tetapi tidak mendapatkan hasil yang baik dan terkesan seperti kamera ponsel "jadul" dengan "semut" yang terlihat banyak dan warna yang tidak natural serta hasil yang terkesan gelap pada pencahayaan minim.
Lalu di sektor musik, mungkin sudah sulit membedakan kualitas suara di sebuah smartphone, karena bagi pendengaran awam, kualitasnya 11-12 dengan produk yang berharga tinggi. Sektor ini bisa saja dilewatkan, tetapi ada satu hal yang mengganjal. Hal ini mungkin kecil, tetapi colokan untuk earphone juga memiliki 2 jenis (yang menggunakan mikrofon) dengan diameter 3,5 mm. Kedua jenis earphone ini berbeda pada kabel ground dan mikrofon. Jadi saat sebuah smartphone dengan platform colokan earphone lama dicolokan earphone dengan platform baru, hasil suaranya seperti terpendam dan kita harus menekan tombol jawab telepon yang ada di earphone tersebut untuk mengeluarkan suaranya (coba saja amati ini pembaca).
Jadi, pintar-pintarlah dalam memilih teknologi dan spesifikasi smartphone. Jangan hanya tergiur dengan harga miring ataupun merek produsen yang sudah ternama. Jangan utamakan gengsi, karena hidup itu butuh kenyamanan. Setidaknya ketahuilah apa yang anda butuhkan dan akan anda beli.
Keempat, faktor multimedia. Produk yang telah dikeluarkan banyak sekali yang menggembar-gemborkan keunggulan di sektor multimedia. Contohnya kamera. Banyak sekali yang menawarkan resolusi kamera yang tinggi. Calon pembeli biasanya selalu bertanya berapa resolusi kamera yang tersedia, bukan bagaimana hasil dari sebuah lensa kamera di smartphone tersebut. Ironis saat pembeli meminang sebuah smartphone dengan resolusi kamera yang tinggi tetapi tidak mendapatkan hasil yang baik dan terkesan seperti kamera ponsel "jadul" dengan "semut" yang terlihat banyak dan warna yang tidak natural serta hasil yang terkesan gelap pada pencahayaan minim.
Lalu di sektor musik, mungkin sudah sulit membedakan kualitas suara di sebuah smartphone, karena bagi pendengaran awam, kualitasnya 11-12 dengan produk yang berharga tinggi. Sektor ini bisa saja dilewatkan, tetapi ada satu hal yang mengganjal. Hal ini mungkin kecil, tetapi colokan untuk earphone juga memiliki 2 jenis (yang menggunakan mikrofon) dengan diameter 3,5 mm. Kedua jenis earphone ini berbeda pada kabel ground dan mikrofon. Jadi saat sebuah smartphone dengan platform colokan earphone lama dicolokan earphone dengan platform baru, hasil suaranya seperti terpendam dan kita harus menekan tombol jawab telepon yang ada di earphone tersebut untuk mengeluarkan suaranya (coba saja amati ini pembaca).
Jadi, pintar-pintarlah dalam memilih teknologi dan spesifikasi smartphone. Jangan hanya tergiur dengan harga miring ataupun merek produsen yang sudah ternama. Jangan utamakan gengsi, karena hidup itu butuh kenyamanan. Setidaknya ketahuilah apa yang anda butuhkan dan akan anda beli.
0 comments:
Post a Comment