Definisi kata bahagia itu bisa bersifat subjektif bagi banyak orang. Di kehidupan sosial yang saya amati, arti bahagia bagi tiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang bahagia dengan apa yang sudah mereka dapatkan, ada juga yang bahagia dengan menyimpan banyak uang yang sudah mereka dapatkan. Tetapi, tidak sedikit yang bahagia dengan hidup sederhana dan apa adanya.
Contohnya, ada seorang yang memiliki banyak harta, tetapi dia tidak bahagia karena kebebasannya terganggu. Tentunya dengan memegang banyak uang, banyak yang mengincar hartanya tersebut. Tetapi ada juga yang berbahagia dengan harta yang melimpah juga. Karena dengan harta yang seseorang memiliki, seseorang tersebut bisa menggunakan hartanya di jalan kebaikan dan akan memuaskan batinnya. Mungkin orang-orang yang memiliki banyak harta dan tidak bahagia ini dikarenakan mereka tidak menggunakan hartanya dengan baik.
Apa dengan menyimpan uang saja itu cukup membuat seseorang bahagia? Jawabannya tidak. Dengan menyimpan uang tanpa membelanjakannya, hanya akan menyiksa diri seseorang saja. Seseorang hidup pasti harus memenuhi kebutuhannya. Jika sampai kikir atau kelewat pelit terhadap diri sendiri, jangan harap ada orang yang ingin dekat dengan anda. Sebab orang lain akan melihat anda sebagai orang yang untuk diri sendiri saja sudah pelit, apalagi untuk berbagi dengan orang lain toh?
Berbagi dengan orang lain itu indah, apalagi tanpa hitung-hitungan. Percayalah Yang-Di-Atas akan membalas semua kebaikan anda dari hal yang disebut berbagi. Toh rejeki juga datangnya dari Yang-Di-Atas melalui orang-orang di sekitar anda bukan? DIA yang maha mengatur, dan janganlah takut miskin dengan membagikan harta titipan-Nya tersebut. Jika sampai tidak ada orang yang ingin dekat dengan anda, bagaimana bisa rejeki-Nya dipercayakan kepada anda?
Di lain sisi, ada satu keluarga kecil dari rakyat kecil. Setiap ditanya mereka bahagia atau tidak dengan kehidupannya, mereka akan menjawab "Kami bahagia". Mereka bisa berbahagia karena orang yang dicintai, dilindungi, dan disayanginya tetap ada meskipun mereka selalu dalam kondisi pas-pasan. Mereka sudah melupakan cinta terhadap harta, karena mereka yakin rejeki sudah ada yang mengatur. Terkadang untuk makan mereka sehari-hari saja sudah susah payah mereka cari, tetapi mereka masih bisa tersenyum bahagia.
Berbeda dengan orang-orang yang kikir atau kelewat pelit. Bahkan untuk kebutuhannya sendiri saja dia masih mengemis sana-sini, padahal di kantungnya ada uang berwarna merah. Sungguh membingungkan, mereka mengejar banyak harta dengan mengorbankan kebutuhan sendiri dan harta titipan dari orang lain. Sungguh sangat kesal melihat kejadian seperti ini, karena saya menemukan beberapa kasus di lingkungan sekitar saya sendiri. Bahkan tidak ada hasrat untuk patungan membeli sesuatu yang ia minta.
Tetapi ini hanyalah sebuah tulisan opini. Tulisan ini bukanlah untuk anda taati. Saya, sebagai penulis hanya ingin berbagi kisah pengalaman di dalam hidup yang terjadi di sekitar saya. Semoga dengan tulisan ini dapat membantu pembaca untuk berubah ke tahap hidup yang lebih baik lagi.
0 comments:
Post a Comment