Monday, November 24, 2014

Media Massa Pembunuh Karakter

Seluruh kejadian yang terpampang di media massa dengan mudah bisa didapatkan masyarakat luas. Seseorang yang turut serta dalam satu berita acara juga pasti tidak mengharapkan bila namanya terpampang di media massa dengan nama yang kurang baik. Beberapa  berita acara malah seringkali dikurangi dan dilebihi demi meraih reputasi yang baik. Apakah dengan reputasi maka semua jadi baik?

Pembaca mungkin sudah sering mendengar tentang muka dua, dimana seseorang akan berakting beda di tempat yang berbeda pula. Kejadian yang menyangkut orang penting juga sering direvisi agar saat ditampilkan semuanya jadi baik demi meraih keuntungan yang besar dari reputasi perusahaan peliput acara. Berita-berita yang beredar di media massa juga tidak bisa ditutupi sering kali menutupi fakta atau mempengaruhi pemikiran orang lain.

Di Indonesia sendiri banyak sekali perusahaan penyiar acara televisi. Dari sebuah berita saja dapat menghasilkan banyak spekulasi dan kesimpulan yang saling menusuk. Seringkali masyarakat awam juga bingung yang mana yang benar dan baik untuk dipercaya. Penulis sendiri adalah salah seorang yang kurang suka melihat berita di media massa yang berkesan subjektif. Padahal saat penulis belajar pelajaran Bahasa Indonesia pada saat penulis berada di bangku sekolah menengah atas, ada beberapa syarat untuk mengeluarkan suatu berita atau opini, apalagi menyangkut media massa.

Untuk orang-orang yang benar-benar awam tentang satu kejadian, bisa saja mengikuti sesuatu yang salah yang telah ditampilkan di media massa. Fungsi media massa sendiri salah satunya adalah media edukasi, dimana jika ada berita yang sifatnya subjektif, maka ini berarti telah mencoreng nama edukasi di dalam media massa itu sendiri. Lembaga-lembaga yang berperan dalam pengawasan siaranpun seringkali kecolongan, atau bahkan kurang peduli terhadap program di dalam sebuah media massa.


Menurut penulis, seharusnya ada perubahan dalam pengawasan media massa ke arah yang lebih baik. Jika yang melihat berita subjektif itu anak di bawah umur, lalu mereka melakukan kriminal, siapa yang harus disalahkan?

0 comments:

Post a Comment