Seluruh kejadian yang terpampang
di media massa dengan mudah bisa didapatkan masyarakat luas. Seseorang yang
turut serta dalam satu berita acara juga pasti tidak mengharapkan bila namanya
terpampang di media massa dengan nama yang kurang baik. Beberapa berita acara malah seringkali dikurangi dan
dilebihi demi meraih reputasi yang baik. Apakah dengan reputasi maka semua jadi
baik?
Pembaca mungkin sudah sering
mendengar tentang muka dua, dimana seseorang akan berakting beda di tempat yang
berbeda pula. Kejadian yang menyangkut orang penting juga sering direvisi agar
saat ditampilkan semuanya jadi baik demi meraih keuntungan yang besar dari
reputasi perusahaan peliput acara. Berita-berita yang beredar di media massa
juga tidak bisa ditutupi sering kali menutupi fakta atau mempengaruhi pemikiran
orang lain.
Di Indonesia sendiri banyak
sekali perusahaan penyiar acara televisi. Dari sebuah berita saja dapat
menghasilkan banyak spekulasi dan kesimpulan yang saling menusuk. Seringkali
masyarakat awam juga bingung yang mana yang benar dan baik untuk dipercaya.
Penulis sendiri adalah salah seorang yang kurang suka melihat berita di media
massa yang berkesan subjektif. Padahal saat penulis belajar pelajaran Bahasa
Indonesia pada saat penulis berada di bangku sekolah menengah atas, ada
beberapa syarat untuk mengeluarkan suatu berita atau opini, apalagi menyangkut
media massa.
Untuk orang-orang yang
benar-benar awam tentang satu kejadian, bisa saja mengikuti sesuatu yang salah
yang telah ditampilkan di media massa. Fungsi media massa sendiri salah satunya
adalah media edukasi, dimana jika ada berita yang sifatnya subjektif, maka ini
berarti telah mencoreng nama edukasi di dalam media massa itu sendiri.
Lembaga-lembaga yang berperan dalam pengawasan siaranpun seringkali kecolongan,
atau bahkan kurang peduli terhadap program di dalam sebuah media massa.
Menurut penulis, seharusnya ada
perubahan dalam pengawasan media massa ke arah yang lebih baik. Jika yang
melihat berita subjektif itu anak di bawah umur, lalu mereka melakukan
kriminal, siapa yang harus disalahkan?
0 comments:
Post a Comment