Wednesday, April 27, 2016

Lembah Selaksa Bunga Bab 6

Dia sendiri tidak senang menjadi ketua. Dia lebih senang memperdalam ilmu silat dan sastra, bahkan beberapa tahun sesudah adik tirinya itu menggantikan ayah tirinya menjadi Ketua Ban-hwa-pang, Sie Bun Liong meninggalkan Lembah Selaksa Bunga dan melakukan perantauan sampai bertahun-tahun dan baru sekarang dia muncul, bertemu lagi dengan adik tirinya setelah mereka berdua berusia lebih dari empatpuluh tahun.

Selama makan minum, Sie Bun Liong tidak bicara, agaknya dia tidak ingin mengganggu adiknya yang bergembira menyambut kedatangannya. Akan tetapi setelah mereka selesai makan minum, mereka duduk di ruangan depan yang hawanya lebih sejuk dan Sie Bun Liong bertanya.

“Leng-te, ketika aku datang, di sini sedang dihias untuk menyambut pesta pernikahanmu besok. Leng-te, gadis manakah yang telah membuat engkau mengambil keputusan untuk menikah, padahal sejak dulu engkau bilang bahwa engkau tidak akan mengikat diri dengan pernikahan?”

“Ah, Liong-ko, sekali ini aku benar-benar terpesona dan tergila-gila melihat calon isteriku. Dan ia itu adalah seorang gadis kang-ouw yang amat terkenal dengan julukan Hwe-thian Mo-li, lihai dan cantik jelita.”

“Mo-li......?” Sie Bun Liong mengerutkan alisnya mendengar adiknya akan menikah dengan seorang wanita yang berjuluk Mo-li (Iblis Betina)! Karena selama ini dia merantau dan tinggal di barat, di daerah Pegunungan Himalaya, maka tentu saja dia tidak mengenal julukan Hwe-thian Mo-li itu.

“Ia memang seorang tokoh persilatan yang liar dan ganas, juga lihai sekali, Liong-ko. Maka aku mengambil keputusan untuk menjadikannya isteriku agar aku dapat membimbing ia meninggalkan keganasannya.”

Sie Bun Liong mengangguk-angguk. “Hemm, niatmu itu tidak buruk. Akan tetapi dasar perjodohan harus ada cinta kasih kedua pihak. Apa engkau mencintanya?”

“Wah, aku tergila-gila padanya, Liong-ko. Aku sungguh telah jatuh cinta begitu aku bertemu dengannya,” kata Siangkoan Leng gembira. Kakaknya mengamati wajahnya yang tidak dapat dibilang menarik itu.

“Bagus kalau engkau begitu mencintanya. Akan tetapi bagaimana dengan gadis itu? Apakah ia juga mencintamu?”

Ditanya begini, Siangkoan Leng tak mampu menjawab. Di dalam hatinya dia merasa bingung. Sejak dulu dia amat takut terhadap kakaknya ini yang selalu penyabar, mengalah, namun yang segala-galanya melebihi dirinya. Justeru karena kelembutan dan kebaikan hati Sie Bun Liong itulah yang membuat dia selalu tunduk dan menurut.

“Aku...... aku belum tahu, Liong-ko. Maklumlah, wanita biasanya malu-malu untuk mengaku cinta. Akan tetapi aku sedang membujuknya dan agaknya ia tidak menolak ketika kulamar untuk menjadi isteriku.”

“Hemm, calon isterimu itu gadis dari mana kah dan di mana ia tinggal?”
  Siangkoan Leng semakin bingung. Dia merasa yakin benar bahwa kalau kakaknya yang selalu menuntut kebenaran ini tahu bahwa calon isterinya adalah gadis yang ditawannya dan dia hendak memaksanya menjadi isterinya, tentu kakaknya akan marah sekali dan jelas akan melarangnya! Dia sudah tergila-gila kepada Hwe- thian Mo-li dan tidak ingin dihalangi pernikahannya dengan gadis itu.

Dia harus menggunakan akal karena tidak mungkin dia dapat menggunakan kekerasan terhadap kakaknya untuk mencapai niatnya. Dia tahu bahwa selain dia tidak akan mampu mengalahkan Sie Bun Liong, juga sebagian anggauta Ban-hwa-pang terutama yang sudah lama, tentu tidak mau membelanya untuk mengeroyok Sie Bun Liong yang disegani dan dihormati semua anggautanya.

“Liong-ko, Hwe-thian Mo-li adalah seorang gadis kang-ouw yang sudah tidak berkeluarga dan bertempat tinggal tetap. Sejak kami bertemu, ia tidak meninggalkan tempat kita ini.”

“Ah, dia sudah berada di sini? Aku ingin melihat calon Adik Iparku, Leng-te!” kata Sie Bun Liong dengan wajah berseri gembira dan agak kemerahan karena dia telah minum agak terlalu banyak arak. Sudah beberapa tahun ini dia jarang minum arak sampai demikian banyaknya sehingga dia kini terpengaruh dan agak mabok.

Siangkoan Leng terkejut sekali. “Ah, Liong-ko, mana mungkin engkau dapat menemuinya sekarang? Ia tentu malu sekali dan memang seorang calon mempelai wanita tidak boleh menemui seorang pria sebelum menikah, bahkan aku sendiri tidak berani menemuinya. Ia tentu akan merasa terhina, dan ia galak sekali, Liong-ko.

Bersabarlah sampai kami menikah besok. Sekarang karena aku merasa rindu sekali padamu, mari kita minum sepuasnya sambil berbincang-bincang. Engkau harus menceritakan semua pengalamanmu selama merantau!”

Karena alasan yang dikemukakan adiknya itu masuk akal, Sie Bun Liong tidak mau mendesak lagi untuk bertemu dengan Hwe-thian Mo-li.

“Leng-te, dalam perjalananku ke sini, aku mendengar kabar-kabar yang tidak begitu menyenangkan tentang Ban-hwa-pang kita. Ada yang mengabarkan bahwa kini Ban-hwa-pang merupakan perkumpulan yang ditakuti orang, anggautanya banyak yang bertindak kasar dan kejam terhadap rakyat. Bahkan kabarnya Ban-hwa-pang suka memeras para pedagang di kota-kota sekitar sini. Benarkah engkau melakukan hal yang tidak patut itu, Leng-te?”

“Ah, itu hanya kabar bohong, disebarkan orang-orang yang tidak suka kepada perkumpulan kita, Liong-ko. Kami memang menerima sumbangan, namun itu diberi secara sukarela oleh para pedagang yang merasa keamanannya terlindung oleh Ban-hwa-pang. Kalau kami bersikap tegas dan keras, itu pun hanya terhadap para penjahat yang mengganggu rakyat!”

“Hemm, mudah-mudahan keteranganmu benar. Biarlah, soal calon isterimu itu, biar kutemui besok. Kalau memang ia dengan sukarela mau menjadi isterimu, aku pun tidak akan menghalangimu. Akan tetapi, aku melarang keras kalau engkau menggunakan kekerasan dan paksaan.”

“Ah, tentu saja tidak, Liong-ko. Mari, mari minum lagi, Liong-ko!”

“Ah, sudah terlalu banyak aku minum, Adikku!”

“Liong-ko, tanpa doa restumu sebagai pengganti orang tua kita, aku tidak akan merasa tenang dan bahagia.

Marilah minum, Liong-ko, demi mendoakan kebahagiaanku bersama calon isteriku. Marilah, Liong-ko!”

Sampai malam mereka bercakap-cakap membicarakan masa lalu dan pengalaman masing-masing sejak mereka berpisah sebagai pemuda dan kini mereka sudah sama-sama berusia empatpuluh tahunan. Mereka bercakap-cakap dengan gembira dan minum arak. Siangkoan Leng yang memang setiap hari suka minum banyak arak, tentu saja lebih kuat dalam hal minuman ini dibandingkan kakaknya yang sudah bertahun-tahun tidak pernah minum arak.

Akhirnya, Sie Bun Liong yang ikut bergembira menghadapi pernikahan adiknya sehingga tidak tega menolak ajakan Siangkoan Leng untuk minum arak tanpa ukuran lagi, meletakkan kepalanya berbantal lengan di atas meja dalam keadaan tidak sadar karena mabok berat. Sambil tertawa-tawa Siangkoan Leng membantu dan memapah kakaknya keluar dari ruangan itu.

“Ha-ha-ha, Liong-ko, engkau sudah tidak kuat minum lagi! Ha-ha, marilah, mari beristirahat, engkau harus membantuku, Liong-ko...... ha-ha-ha!” Siangkoan Leng yang hanya setengah mabok tertawa-tawa gembira. Dia ingin menyenangkan hati kakaknya agar kakaknya itu tidak menghalangi pernikahannya, melainkan membantunya.

0 comments:

Post a Comment