Malam telah larut, bahkan setelah tengah malam, gedung tempat tinggal Siangkoan Leng telah menjadi sepi.
Semua anggauta Ban-hwa-pang yang sehari penuh tadi bekerja menghias seluruh perkampungan mereka untuk mempersiapkan perayaan pernikahan ketua mereka, kini sudah tidur melepaskan lelah.
Siang Lan melihat betapa lima orang wanita yang menjaganya sudah tidur pulas di atas lantai. Ia sejak tadi berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat pergelangan tangannya, namun tidak berhasil. Tali itu terlampau kuat, agak lentur sehingga tidak dapat putus. Juga rantai baja pada kakinya amat kuat. Kini ia duduk bersila di atas pembaringan untuk menghimpun tenaga. Ia pikir bahwa untuk melaksanakan upacara pernikahan besok, mau tidak mau Siangkoan Leng pasti akan melepaskan ikatan kaki tangannya. Tidak mungkin ia harus melakukan upacara pernikahan dalam keadaan terbelenggu disaksikan para tamu! Nah, kesempatan itu, walaupun sedikit dan di sana akan terdapat banyak kaki tangan Siangkoan Leng, akan ia pergunakan untuk mengamuk dan membebaskan diri! Untuk itu ia membutuhkan banyak tenaga murni, maka malam ini ia duduk melakukan siu-lian (samadhi) menghimpun tenaga.
Lewat tengah malam, suasananya menjadi semakin sepi. Siang Lan yang tenggelam ke dalam samadhi menjadi peka sekali. Ia bahkan dapat mendengar dengkur yang datang dari kamar-kamar sebelah, bahkan pernapasan halus dari lima orang wanita pelayan di lantai itupun terdengar dengan jelas olehnya.
Tiba-tiba, pada waktu jauh lewat tengah malam, pendengarannya menangkap gerakan yang tidak wajar itu di luar kamar itu. Ia membuka sepasang matanya dan melihat betapa lilin yang tadi bernyala di sudut kamar telah padam. Juga lampu kecil di atas meja berkedap-kedip, apinya bergoyang.
Kemudian ada angin bertiup dan api lampu itu pun padam, membuat ruangan itu menjadi remang-remang karena hanya mendapat sedikit sinar dari lampu yang berada di luar. Sinar itu memasuki kamar lewat daun jendela yang telah terbuka! Sesosok bayangan dalam cuaca remang-remang itu berkelebat mendekati pembaringan. Siang Lan cepat mengerahkan tenaga dan menggerakkan kedua tangannya yang terikat untuk menyerang bayangan yang mendekatinya itu.
“Wuuuttt......!” Pukulan gadis itu dahsyat sekali karena ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk membunuh bayangan yang ia yakin tentulah Siangkoan Leng yang berniat buruk terhadap dirinya..
“Plakk! Plakk!” Dua pukulannya itu tertangkis dan Siang Lan merasa betapa kedua tangannya bertemu tangan yang demikian lemas dan lunak sehingga menyerap semua tenaga pukulannya. Ia terkejut sekali akan tetapi tiba-tiba dengan cepat sekali ada tangan yang menotoknya.
Seketika ia terkulai lemas, tak mampu bergerak menggunakan kekuatan tenaga sin-kang lagi, bahkan tidak mampu mengeluarkan suara. Demikian hebatnya totokan itu, membuat ia terheran-heran. Tubuhnya tidak terasa nyeri, juga tidak lumpuh, akan tetapi anehnya ia tidak mampu menggunakan tenaganya!
0 comments:
Post a Comment