Wednesday, April 27, 2016

Lembah Selaksa Bunga Bab 8


01.03. Pembantaian Laki-laki Ban-hwa-pang Tiba-tiba ia menjerit, akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya. Jerit itu terjadi di dalam hatinya saking kaget dan ngerinya karena ada tangan yang dengan lembut melepaskan pakaiannya dan menanggalkan pakaian itu dari tubuhnya! Dan tangan-tangan yang gerakannya lembut namun kuat sekali itu bahkan membuka ikatan kedua tangannya dan juga belenggu pada kakinya.

Ia kini bebas dari belenggu, akan tetapi tubuhnya tidak dapat meronta dan sama sekali tidak berdaya. Yang terjadi kemudian membuat ia menjerit-jerit dalam hatinya.

Air matanya bercucuran keluar dari sepasang matanya dan akhirnya ia jatuh pingsan karena tidak dapat menahan rasa ngeri, marah, benci dan perasaannya hancur lebur. Pada saat itu, sebelum ia jatuh pingsan, ia ingin mati saja. Ia telah diperkosa orang tanpa ia mampu bergerak atau menjerit.

Siang Lan tentu saja tidak tahu berapa lamanya ia dalam keadaan seperti itu dan pingsan. Ketika ia siuman, ia mendengar suara seperti isak tangis dan ada bayangan terhuyung meninggalkan pembaringan menuju ke jendela yang terbuka.

Pada saat itu, Siang Lan teringat apa yang telah terjadi menimpa dirinya dan tiba-tiba ia merasa betapa ia dapat lagi menggerakkan kaki tangannya yang sudah tidak terbelenggu lagi. Cepat ia melompat turun hendak mengejar bayangan itu, yang kini telah melompat keluar melalui lubang jendela. Akan tetapi melihat betapa dirinya dalam keadaan telanjang bulat, ia terkejut bukan main dan menahan gerakannya yang hendak melakukan pengejaran.

Dalam cuaca remang-remang itu, cepat ia menyambar pakaiannya yang bertumpuk di atas tepi pembaringan. Cepat ia mengenakan pakaian dengan air mata bercucuran akan tetapi menahan suara tangisnya. Ia menyadari benar apa yang telah terjadi. Tadi malam ia tertotok dan dalam keadaan tak berdaya telah diperkosa orang! Agaknya fajar telah menyingsing dan cuaca dalam kamar itu tidak segelap malam tadi. Ia melihat lima orang wanita penjaga masih rebah di lantai dan ketika ia memeriksa, mereka pun bukan sedang tidur melainkan pingsan tertotok pula! Siang Lan cepat melompat melalui lubang jendela untuk melakukan pengejaran. Hatinya menangis dan menjerit-jerit teringat akan keadaan dirinya. Akan tetapi ketika tiba di luar ia tidak melihat orang yang semalam memperkosanya. Andaikata ia melihatnya, ia pun tidak akan mengenalnya karena semalam ia hanya melihat bayangan orang itu dalam kegelapan.

Akan tetapi hatinya merasa yakin bahwa pelakunya sudah pasti Siangkoan Leng, Ketua Ban-hwa- pang. Kalau bukan dia, siapa lagi yang berani melakukan perbuatan keji yang terkutuk itu? Kini ia merasa hatinya panas.

Rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Ia merasa seperti dibakar kemarahan dan kebencian. Tiba-tiba muncul tiga orang anggauta Ban-hwa-pang. Mereka terkejut melihat calon pengantin yang tadinya menjadi tawanan itu telah bebas dan berada di luar kamar dengan rambut tergerai dan sepasang mata berkilat.

“Hei......! Nona pengantin, telah terlepas......!” teriak seorang di antara mereka.

“Syuutt...... dukk!” Orang itu terjengkang dan tewas seketika karena tamparan tangan Siang Lan membuat kepalanya retak.

Dua orang rekannya terkejut dan marah. Cepat mereka mencabut pedang akan tetapi sebelum mereka sempat menyerang, kembali kedua tangan Siang Lan berkelebat dan mereka berdua roboh dan tewas! Setelah membunuh tiga orang itu, Siang Lan menjadi semakin beringas seperti seekor harimau mencium darah.

Ia menyambar sebatang pedang milik anggauta Ban-hwa-pang yang tewas itu, lalu ia mulai mencari Siangkoan Leng dengan hati penuh dendam kebencian yang membuat ia hampir gila mengingat akan malapetaka yang menimpa dirinya semalam! Lima orang anggauta Ban-hwa-pang muncul. Para anggauta perkumpulan itu memang mulai bangun dan siap untuk melanjutkan persiapan perayaan pernikahan ketua mereka.

Ketika lima orang itu melihat Hwe-thian Mo-li berdiri dengan pedang di tangan, tentu saja mereka terkejut. Mereka sudah mendengar bahwa calon pengantin itu adalah seorang gadis yang berjuluk Iblis Betina dan lihai sekali. Tadinya mereka mendengar dan bahwa gadis itu menjadi tawanan, terbelenggu dan tertotok sehingga tidak mungkin dapat lolos. Kini, tahu-tahu gadis itu telah berada di depan mereka. Maka sambil berteriak-teriak memanggil teman, mereka lalu mengepungnya.

“Nona, engkau hendak ke manakah? Sebagai calon pengantin, Nona tidak boleh keluar kamar......”

“Singgg...... crakkk!” Pembicara itu roboh dengan leher hampir putus terbabat pedang! Empat orang yang lain terkejut dan marah. Mereka lalu mengeroyok dengan pedang mereka dan para anggauta lain yang mendengar keributan itu, berdatangan berbondong-bondong. Akan tetapi pedang rampasan di tangan Hwe-thian Mo-li menyambar-nyambar dan sinarnya bergulung-gulung. Ia mengamuk seperti Iblis Betina benar-benar dan terdengar jeritan disusul robohnya tubuh para pengeroyok.

Darah muncrat dan membanjiri lantai! Karena ruangan itu terlalu sempit, apalagi sudah ada enam orang malang melintang tewas disambar pedangnya.

Hwe-thian Mo-li merasa tidak leluasa mengamuk. Maka ia lalu melompat keluar dan setelah tiba di pekarangan depan rumah besar Siangkoan Leng, ia berhenti menanti sampai puluhan orang anggauta Ban-hwa-pang datang mengepungnya.

“Anjing-anjing jahanam keparat! Majulah kalian semua. Hari ini kalau tidak dapat membunuh bangsat Siangkoan Leng dan kalian semua anak buahnya, jangan sebut aku Hwe-thian Mo-li!” Ia menjerit dan segera tubuhnya berkelebatan, pedangnya menyambar-nyambar.

Terjadilah perkelahian yang mengerikan. Puluhan orang anggauta Ban-hwa-pang itu bagaikan segerombolan anjing serigala mengeroyok Hwe-thian Mo-li yang mengamuk seperti seekor naga. Jerit dan teriakan susul menyusul. Tubuh para pengeroyok berpelantingan dan tewas seketika, terkena sambaran pedang atau tamparan tangan, kiri gadis itu. Baju Hwe-thian Mo-li sudah berlepotan darah mereka yang ia robohkan. Banj ir darah di pekarangan gedung itu.

Setelah merobohkan dan membunuh lebih dari duapuluh orang pengeroyok, tiba-tiba terdengar gerengan dahsyat dan muncullah Sang Ketua yang bertubuh tinggi besar itu.

“Perempuan iblis!” Siangkoan Leng membentak, melintangkan tombak cagaknya di depan dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah Hwe-thian Mo-li. “Perempuan tidak tahu diuntung! Engkau hendak kuangkat derajatmu menjadi Nyonya Ketua Ban-hwa-pang, sekarang malah membunuhi anggauta perkumpulanku! Engkau harus menebus dosa ini dengan nyawamu!”

Kini Siang Lan dapat melihat laki-laki itu dengan jelas dan ia bergidik muak. Kepala yang besar itu dengan semua anggauta badan yang bulat dan besar membuat ketua itu tampak seperti seekor kera yang menjijikkan. Mengingat bahwa orang ini semalam telah melakukan penghinaan yang sebesar-besarnya kepadanya, telah memperkosanya, maka sepasang mata Siang Lan mencorong.

Apalagi ia melihat pedangnya tergantung di pinggang orang itu, saking marahnya ia hampir tak mampu bicara.

“Mampuslah, jahanam!” Ia menjerit dan pedangnya sudah menyerang dengan dahsyatnya.

Siangkoan Leng bukan seorang lemah, akan tetapi ketika dia menggerakkan tombaknya untuk menangkis, terdengar bunyi berdentang dan dia terhuyung ke belakang. Dia terkejut bukan main. Ternyata gadis ini memang lihai dan memiliki tenaga sakti yang amat kuat. Dia meneriaki anggauta perkumpulannya untuk mengeroyok dan kembali Siang Lan mengamuk. Ia sengaja selalu menjauhi Siangkoan Leng yang merupakan lawan paling tangguh. Ia mengamuk di antara para anggauta Ban-hwa-pang.

Satu demi satu para pengeroyok itu ia robohkan. Setelah terjadi pertempuran yang lebih merupakan pembantaian itu selama hampir dua jam, akhirnya semua anggauta Ban-hwa-pang roboh dan tewas! Kini hanya tinggal Siangkoan Leng seorang yang menghadapi Siang Lan dengan muka pucat dan merasa ngeri.

Limapuluh lebih anak buahnya tewas di tangan Hwe-thian Mo-li! Tadi memang sengaja gadis itu menghindari Siangkoan Leng karena dengan cara demikian, tidak ada anak buahnya yang melarikan diri. Kalau ia lebih dulu merobohkan ketuanya, maka sisa anak buahnya pasti akan melarikan diri ketakutan. Memang Hwe-thian Mo-li sudah memperhitungkan dan mengambil keputusan untuk membunuh semua anggauta Ban-hwa-pang! “Jahanam busuk! Sekarang tiba saatnya aku mencincang hancur tubuhmu yang amat kotor dan jahat itu!”

Hwe-thian Mo-li berseru dan ia segera menyerang dengan cepat. Siangkoan Leng masih merasa ngeri melihat semua anak buahnya tewas. Untuk melarikan diri pun sudah tidak ada kesempatan lagi maka dia pun dengan nekat melawan mati-matian, mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu silat tombaknya yang lihai.

Mereka bertanding di antara puluhan mayat yang berserakan. Terkadang mereka terpaksa menginjak mayat karena pekarangan itu memang penuh dengan mayat. Sepak terjang Hwe-thian Mo-li amat mengerikan. Ia bagaikan kesetanan, tidak mengenal ampun. Hati dan pikirannya dipenuhi dendam kebencian yang amat hebat karena peristiwa semalam yang merenggut kehormatannya sebagai seorang gadis.

0 comments:

Post a Comment