KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, memeriksa gorong-gorong
saluran pembuangan Jalan MH THamrin di sekitar Bundaran Hotel Indonesia,
Jakarta, Rabu (26/12/2012). Pemeriksaan ini untuk melihat langsung kondisi
saluran pembuangan yang diduga tersumbat dan menjadi penyebab timbulnya
genangan saat hujan deras.
JAKARTA, KOMPAS.com — Di saat meninjau genangan air di
Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tak
sungkan masuk ke dalam selokan selebar setengah meter. Padahal, saat ini,
pimpinan SKPD ikut meninjau bersamanya.
Semula, Jokowi hanya melihat kondisi selokan yang terhubung
dengan Jalan Raya Lenteng Agung. Tiba-tiba, Jokowi setengah melompat masuk ke
dalam selokan itu seraya membungkuk. Jokowi pun menunjukkan onggokan sampah di
dalam gorong-gorong selokan.
"Tuh lihat, di dalam itu buanyak sampah, makanya ada
genangan," ujar Jokowi, Senin (11/11/2013).
Jokowi sempat meminta Kepala Dinas Pekerjaan Umum Jakarta
Manggas Rudi Siahaan untuk melihat langsung kondisi yang ada di dalam.
"Sini, Pak, dilihat dari sini kelihatan banget," ucapnya sambil
menunjukkan onggokan sampah di dalam selokan.
Tetapi, Manggas tak ikut turun ke dalam selokan. Manggas
hanya mengiyakan sambil memosisikan tubuhnya setara dengan Jokowi.
Selain memantau gorong-gorong penuh sampah, Jokowi juga
sempat menjejak-jejakkan kaki kanannya di dasar selokan. Jokowi mengatakan,
salah satu penyebab genangan adalah endapan di selokan yang belasan tahun tidak
pernah dikeruk sehingga menumpuk serta akhirnya mengurangi daya tampung selokan
itu.
"Di sini titik yang paling tinggi genangannya.
Coba bayangin sampe keras begini endapannya," ujar Jokowi.
Dia pun meminta Kepala Dinas PU untuk mengeruk endapan
lumpur di selokan tersebut. Seperti diketahui, hujan yang mendera Jakarta pekan
pertama November 2013 ini mengakibatkan genangan di Jakarta. Data Dinas
Pekerjaan Umum mencatat ada 27 genangan yang ada di Jakarta.
Jokowi menilai ada tiga penyebab genangan. Pertama, tidak
sterilnya penghubung antara jalan dan saluran air dari sampah. Kedua,
terdapatnya beragam kabel yang melintang di penghubung antara jalan dan saluran
tersebut. Alhasil, sampah pun tersangkut di kabel sehingga menyebabkan
tersendatnya air. Ketiga, tidak ratanya lebar saluran air tepi jalan. Ada ruas
saluran yang memiliki lebar dua meter, tetapi di ruas selanjutnya menyempit
hingga mencapai satu meter saja.
Editor : Ana Shofiana Syatiri
Sumber: Kompas.com
Komentar Saya:
Masalah banjir di Jakarta sudah sering saya dengar. Bapak
Jokowi ini patut untuk menjadi contoh karena ulatnya menjadi pemimpin yang
bertanggung jawab. Sebagai gubernur DKI Jakarta, setidaknya bantuan dari
pemerintah pusat beserta dinas yang lain ikut membantu agar masalah banjir
dapat dikurangi demi kenyamanan bersama. Perlu adanya juga regulasi pemerintah
tentang membuang sampah yang tidak sembarangan agar banjir tidak akan terlalu
besar bilapun hujan deras berkepanjangan.
0 comments:
Post a Comment